Yogyakarta merupakan wilayah yang secara geografis berada dalam bayang-bayang aktivitas gunung berapi yang sangat aktif. Ketika terjadi erupsi, dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa aliran lava atau awan panas, tetapi juga sebaran partikel halus yang terbawa angin ke area pemukiman yang luas. Fenomena paparan debu vulkanik ini sering kali dianggap sebagai gangguan pernapasan semata, padahal ancaman yang tersembunyi jauh lebih luas, yakni menyasar sistem kebersihan lingkungan dan pasokan air masyarakat. Penurunan kualitas lingkungan hidup ini jika tidak ditangani dengan benar akan memicu wabah penyakit pasca-bencana yang lebih kompleks.
Berdasarkan pengalaman panjang dalam menangani krisis erupsi, PMI Jogja menekankan bahwa kebersihan sarana air bersih adalah prioritas utama yang sering terabaikan. Debu yang mengandung unsur silika, sulfur, dan material tajam lainnya dapat dengan mudah masuk ke dalam sumur gali, tandon air yang tidak tertutup rapat, serta sistem perpipaan terbuka. Partikel ini tidak hanya merubah warna dan rasa air, tetapi juga mengubah tingkat keasaman (pH) air secara drastis, sehingga air tersebut tidak lagi aman untuk dikonsumsi maupun digunakan untuk keperluan higiene dasar. Gangguan pada aspek sanitasi ini sering kali menjadi penyebab utama melonjaknya kasus diare dan iritasi kulit di pengungsian maupun pemukiman warga.
Sebagai langkah mitigasi, organisasi kemanusiaan ini telah menyusun sebuah panduan perlindungan yang praktis untuk diikuti oleh masyarakat saat terjadi hujan abu. Langkah pertama yang sangat krusial adalah menutup semua akses sumber air dan saluran pembuangan agar tidak tersumbat oleh penumpukan material vulkanik yang memiliki sifat mengeras seperti semen jika terkena air dalam jumlah sedikit. Warga juga diingatkan untuk tidak langsung menyiram debu yang tebal di atap rumah dengan air, melainkan menyapunya dalam kondisi kering terlebih dahulu guna mencegah beban berlebih pada struktur atap dan saluran drainase yang bisa menyebabkan banjir genangan di sekitar rumah.
Selain infrastruktur air, kesehatan diri dalam menjaga kebersihan makanan juga menjadi bagian dari edukasi yang diberikan. Debu yang menempel pada sayuran atau buah-buahan harus dicuci dengan air yang benar-benar bersih dan mengalir. Relawan di lapangan secara aktif mendampingi warga untuk memastikan bahwa tempat penyimpanan makanan selalu dalam kondisi kedap udara. Pemahaman mengenai debu vulkanik ini sangat penting agar masyarakat tidak hanya selamat dari ancaman erupsi secara fisik, tetapi juga tetap sehat selama masa pemulihan yang terkadang memakan waktu berminggu-minggu hingga debu benar-benar hilang dari lingkungan.
