Saat bencana merenggut segalanya, bukan hanya fisik yang terluka, tetapi juga jiwa. Di sinilah Palang Merah Indonesia (PMI) hadir dengan upaya krusial dalam Membangun Harapan melalui dukungan psikososial bagi para korban bencana. Lebih dari sekadar bantuan materi, dukungan ini berfokus pada pemulihan mental dan emosional, membantu individu dan komunitas untuk bangkit dari trauma dan menatap masa depan.
Dampak psikologis bencana seringkali luput dari perhatian, padahal dampaknya bisa berlangsung jangka panjang. Kehilangan orang terkasih, tempat tinggal, atau mata pencarian dapat memicu kesedihan mendalam, kecemasan, bahkan depresi. PMI memahami ini dan melatih relawan khusus untuk memberikan dukungan psikososial (Dukkesos) kepada korban. Tim Dukkesos PMI memiliki kemampuan untuk mendengarkan, memberikan dukungan emosional, dan melakukan aktivitas rekreatif yang membantu korban, terutama anak-anak, untuk mengungkapkan perasaan mereka dan mengurangi stres. Sebagai contoh, pada tragedi gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, 28 September 2018, tim Dukkesos PMI mendirikan tenda khusus anak-anak di pengungsian Lapangan Vatulemo, di mana mereka mengadakan kegiatan bermain dan menggambar setiap sore, pukul 16.00 WITA, membantu anak-anak mengatasi trauma.
Pendekatan PMI dalam Membangun Harapan melalui dukungan psikososial disesuaikan dengan kelompok usia dan kondisi korban. Untuk anak-anak, aktivitas bermain dan bercerita menjadi media utama. Bagi orang dewasa, sesi diskusi kelompok atau konseling individu dapat membantu mereka memproses pengalaman traumatis dan mencari strategi coping yang sehat. Relawan juga berupaya menumbuhkan kembali rasa komunitas dan saling memiliki di antara para pengungsi. Petugas keamanan dari Polsek Palu Timur, Brigadir Doni, yang bertugas di lokasi pengungsian tersebut, menyatakan bahwa kehadiran tim psikososial sangat membantu menjaga stabilitas emosi para pengungsi.
Membangun Harapan juga berarti memberdayakan korban untuk melihat potensi diri dan masa depan. PMI tidak hanya memberikan dukungan pasif, tetapi juga mendorong korban untuk terlibat dalam kegiatan positif yang dapat mengembalikan rasa kontrol atas hidup mereka. Ini adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran dan empati. Dengan pendekatan yang manusiawi dan profesional, PMI berupaya memastikan bahwa di balik reruntuhan dan air mata, benih-benih harapan dapat kembali tumbuh, membawa mereka menuju pemulihan seutuhnya.
