Yogyakarta secara geografis terletak di wilayah yang sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana alam, mulai dari erupsi gunung api, gempa bumi, hingga banjir. Dalam menghadapi ancaman tersebut, kesiapsiagaan merupakan harga mati. Namun, Palang Merah Indonesia (PMI) Daerah Istimewa Yogyakarta menyadari bahwa pendekatan mitigasi konvensional sering kali melupakan kelompok yang paling rentan, yaitu difabel dan lansia. Oleh karena itu, kini fokus utama diarahkan pada program disaster preparedness yang inklusif. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa dalam situasi darurat, tidak ada satu orang pun yang tertinggal karena keterbatasan fisik atau usia, dan setiap individu memiliki kapasitas untuk menyelamatkan diri atau mendapatkan bantuan yang tepat.
Langkah awal dari program inklusif ini adalah pemetaan data yang presisi mengenai keberadaan kelompok difabel dan lansia di setiap tingkat dusun dan desa. PMI Jogja bekerja sama dengan komunitas difabel lokal untuk merancang sistem peringatan dini yang aksesibel. Bagi penyandang disabilitas rungu, sistem peringatan tidak hanya mengandalkan sirine suara, tetapi juga menggunakan lampu tanda bahaya atau getaran pada perangkat seluler. Sementara itu, untuk para lansia, pesan-pesan kesiapsiagaan disampaikan melalui bahasa yang sederhana dan pendekatan personal oleh relawan desa. Edukasi mengenai kesiapsiagaan bencana ini dilakukan secara rutin melalui simulasi yang disesuaikan dengan kemampuan fisik masing-masing kelompok, sehingga mereka tidak panik saat ancaman nyata datang.
Selain sistem peringatan, infrastruktur evakuasi juga menjadi perhatian serius. Banyak tempat pengungsian yang selama ini belum ramah terhadap pengguna kursi roda atau lansia yang memiliki kesulitan bergerak. PMI Jogja mulai mendorong standarisasi shelter yang memiliki akses ramp, toilet difabel, dan ruang privasi bagi lansia yang membutuhkan perawatan khusus. Pelatihan bagi relawan juga ditingkatkan agar mereka memiliki keterampilan dalam melakukan teknik evakuasi yang aman bagi penyandang disabilitas fisik tanpa menimbulkan cedera tambahan. Di sini, aspek kemanusiaan bertemu dengan teknis operasional untuk menciptakan sistem keamanan yang benar-benar menyeluruh bagi seluruh warga Jogja.
