Yogyakarta secara geografis berada di jalur yang sangat aktif secara tektonik, menjadikannya salah satu wilayah di Indonesia dengan risiko gempa bumi yang cukup tinggi. Pengalaman pahit gempa besar di masa lalu telah memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya kesiapsiagaan dan ketahanan bangunan terhadap guncangan. Dalam upaya meminimalisir dampak kerugian jiwa dan materi, PMI Jogja secara konsisten melakukan program edukasi dan pendampingan kepada masyarakat terkait strategi perlindungan diri. Salah satu fokus yang menarik dalam kampanye mereka adalah kembali melirik kearifan lokal dalam membangun hunian. Penelitiam lapangan menunjukkan bahwa terdapat alasan ilmiah yang sangat kuat mengenai mengapa konstruksi rumah tradisional di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya terbukti memiliki daya tahan yang jauh lebih baik terhadap guncangan tektonik dibandingkan bangunan modern yang tidak standar.
Rumah tradisional Jawa, seperti Joglo atau Limasan, didesain oleh nenek moyang dengan pemahaman mendalam tentang karakter alam setempat. Konstruksi utama yang menggunakan sistem sambungan kayu tanpa paku (knock-down) memungkinkan bangunan untuk bergerak secara fleksibel mengikuti arah getaran gempa tanpa langsung patah atau runtuh. Struktur atap yang ditopang oleh soko guru (tiang utama) memberikan pusat keseimbangan yang sangat stabil. PMI Jogja menekankan bahwa fleksibilitas inilah yang menjadi kunci keselamatan; bangunan tradisional “menari” bersama gempa, sementara bangunan beton yang kaku justru lebih mudah retak dan roboh menimpa penghuninya jika tidak menggunakan tulangan besi yang tepat. Pengetahuan ini disebarkan kembali kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mitigasi gempa yang berbasis pada kearifan lokal.
Keunggulan struktur kayu dan bambu pada rumah tradisional kini mulai dipromosikan kembali sebagai solusi hunian yang lebih aman bagi warga di daerah rawan bencana. Selain faktor fleksibilitas, beban atap yang merata dan penggunaan fondasi umpak (batu penyangga tiang) mencegah bangunan terperosok ke dalam tanah saat terjadi pergerakan lateral. PMI Jogja bekerja sama dengan ahli teknik sipil untuk melakukan modernisasi pada konsep tradisional ini, sehingga rumah-rumah warga tidak hanya aman tetapi juga memenuhi standar kenyamanan masa kini. Edukasi ini sangat penting karena tren pembangunan saat ini cenderung beralih ke material beton demi alasan prestise, padahal banyak dari bangunan tersebut dibangun secara asal-asalan tanpa memperhitungkan aspek keamanan struktur terhadap potensi guncangan besar.
Program yang dijalankan oleh PMI Jogja juga mencakup pelatihan konstruksi rumah tradisional bagi tukang bangunan lokal agar mereka kembali memahami teknik-teknik pengikatan dan penyambungan kayu yang benar. Dengan memperkuat kapasitas pekerja lokal, PMI ingin memastikan bahwa setiap pembangunan rumah baru di desa-desa telah mempertimbangkan aspek keselamatan bencana. Selain itu, PMI juga mendorong pemerintah daerah untuk memberikan insentif atau kemudahan bagi warga yang tetap mempertahankan atau membangun rumah dengan konsep tahan gempa tradisional. Langkah ini bukan sekadar soal melestarikan budaya, melainkan soal menyelamatkan nyawa manusia melalui teknologi bangunan yang sudah teruji oleh waktu selama ratusan tahun di tanah Jawa.
