Yogyakarta, atau yang akrab disapa Jogja, merupakan wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam menghadapi berbagai dinamika alam, mulai dari aktivitas vulkanik hingga guncangan seismik. Di tengah upaya pemulihan fisik bangunan dan infrastruktur pascabencana, sering kali terdapat luka yang tidak kasat mata namun memiliki dampak mendalam bagi keberlangsungan hidup masyarakat, yaitu trauma kejiwaan. Pendekatan psikososial bencana kini menjadi elemen yang sama pentingnya dengan bantuan logistik makanan dan tenda darurat. Fokus utama dari layanan ini adalah mengembalikan keberfungsian sosial individu dan kelompok agar mereka mampu bangkit dari rasa takut dan kehilangan yang menghimpit.
Dalam setiap peristiwa besar, proses pendampingan harus dilakukan segera setelah fase tanggap darurat dimulai. Bagi warga di lereng Merapi atau daerah rawan gempa lainnya, kehilangan rumah dan harta benda sering kali memicu kecemasan akut hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD). Pendampingan tidak hanya dilakukan oleh psikolog profesional, tetapi juga melibatkan relawan yang dilatih untuk memberikan dukungan emosional dasar. Tujuannya adalah menciptakan ruang aman bagi para penyintas untuk mengekspresikan perasaan mereka tanpa merasa dihakimi, sehingga beban mental yang mereka pikul dapat terurai secara perlahan melalui komunikasi yang empatik.
Dukungan mental sangat krusial terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Di pengungsian, anak-anak sering kali kehilangan dunianya yang ceria. Melalui metode play therapy atau terapi bermain, para relawan di Jogja berusaha mengalihkan fokus anak-anak dari ingatan buruk bencana menuju aktivitas yang kreatif dan edukatif. Sementara bagi lansia, pendampingan dilakukan dengan mendengarkan keluh kesah mereka dan memastikan bahwa mereka tetap merasa memiliki peran dalam komunitas meskipun dalam kondisi darurat. Pemulihan jiwa yang dilakukan secara kolektif akan mempercepat proses resiliensi komunitas dalam menghadapi ketidakpastian di masa depan.
Kebutuhan para korban di lapangan sangatlah beragam, sehingga intervensi psikososial harus disesuaikan dengan konteks budaya lokal. Masyarakat Jogja memiliki modal sosial yang kuat berupa semangat gotong royong dan filosofi “nrimo ing pandum” yang jika diarahkan dengan benar dapat menjadi sumber kekuatan internal untuk pulih. Program pendampingan ini sering kali diintegrasikan dengan kegiatan keagamaan atau seni budaya lokal untuk memberikan rasa ketenangan spiritual. Dengan memanfaatkan kearifan lokal, pesan-pesan pemulihan mental menjadi lebih mudah diterima dan tidak terkesan sebagai intervensi medis yang kaku atau asing bagi kehidupan sehari-hari warga.
